Polemik Tahta Keraton Kasepuhan, Terjadi Insiden Kericuhan di Samping Masjid Sang Cipta Rasa
ARAHBARU, Kota Cirebon – Polemik tahta Kesultanan Kasepuhan kembali mencuat, kericuhan bahkan terjadi di Samping Masjid Sang Cipta Rasa Keraton Kasepuhan. Dalam kericuhan itu salah satu perwakilan dari salah kubu yang mengaku berhak sebagai Sultan Kasepuhan, sempat terintimidasi desakan massa yang sudah berada di lokasi kejadian, Rabu (2/10).
Kericuhan yang melibatkan puluhan warga menyerang sejumlah orang usai melakukan diskusi tentang polemik Tahta Kesultanan Kasepuhan Cirebon di Markas Laskar Macan Ali (LMA).
Pantauan di lapangan, kericuhan terjadi di Alun-alun Sangkala Buana, tepat di depan Keraton Kasepuhan Cirebon hingga bergeser di samping Masjid Sang Cipta Rasa, akibatnya sejumlah fasilitas umum rusak diamuk massa.
Kericuhan tersebut terjadi akibat adanya sejumlah orang yang mengklaim sebagai perwakilan dari versi yang layak menjadi Sultan di Keraton Kasepuhan Cirebon, yang saat ini Singasana kursi kesultanan itu diduduki oleh Sultan Pangeran Raja Adipati Luqman Zulkaedin.
Panglima Laskar Macan Ali (LMA) Nuswantara, Prabu Diaz, menurutnya, terdapat dua orang perwakilan sultan versi Heru Nursamsi yang mengklaim menjadi Sultan di Keraton Kasepuhan.
“Sebenarnya tidak ada polemik di Kesultanan Kasepuhan, tapi ada pihak-pihak yang mengklaim menjadi Sultan yang sah. Sampai saat ini yang saya tahu yang mengklaim Sultan Kasepuhan adalah Pak Heru Nursamsi dan Pak Raharjo, perebutan tahta Keraton Kasepuhan,” ungkap Prabu Diaz.
Prabu Diaz mengatakan, pihak dari Heru Nursamsi dan Mahesa mengutus orang untuk diskusi dan hadir di markas LMA. “Jadi delegasinya Pak Heru Nursamsi dan Mahesa ingin membedah siapa yang sebenarnya berhak menjadi Sultan, mereka datang kesini meminta kita semua (LMA) menjembatani untuk berdiskusi,” katanya.
Rencananya LMA akan menghadirkan sejumlah pakar untuk mengakhiri polemik Tahta di Keraton Kasepuhan Cirebon. “Saya dengan timnya Pak Heru akan membedah hal ini, manis pahit hasilnya kami akan melibatkan pakar sejarah, arsip negara,” ucapnya.
Diketahui, polemik Tahta Sultan di Keraton Kasepuhan Cirebon, mulai terjadi sejak wafatnya Sultan Sepuh Pangeran Adipati Arif Natadiningrat, pada tahun 2020 silam. Saat ini Tahta Sultan Diduduki oleh putranya, Luqman Julkaedin, namun kedudukan tersebut menuai polemik. Sebelum penobatan hingga pasca penobatan Luqman, saling klaim sebagai Sultan yang sah terus mengalir. Dua pihak lain yang mengklaim sebagai Sultan yakni Heru Nursamsi dan Raharjo.(Dms)
















